Kisah Rio Dang Haji Musa (1901-1977)
Semangat
untuk menggali dan melestarikan budaya dan sejarah serta kisah – kisah tempo
dulu perlu digiatkan kembali pada generasi zaman sekarang agar sejarah zaman
orang tua nenek puyang kita dulu tidak punah oleh hantaman era digitalisasi
gadget dan game offline - game online yang melanda kaum milenial seperti
sekarang ini, agar mereka lebih menyukai tradisi, adat,
budaya serta kisah –kisah epic puyang – puyang mereka dahulu dari pada menyukai
secara berlebihan kisah superhero (superman, batman, avengers, PUBG, Free Fire dll) seperti masa
sekarang ini yang notabene hanyalah kisah fiksi khayalan dan fantasi belaka.
Dengan
semangat tersebut berikut kami akan sajikan sekelumit kisah tentang seorang Rio diwilayah dusun Sarolangun tepatnya dikampung Masjid Sarolangun yaitu kisah Datuk Rio
Dang Haji Musa ± 1901-1977. Pada zaman dahulu lembaga pemerintahan / adat
didusun dikepalai oleh seorang Rio setingkat kepala dusun/desa.
Rio yang akan dikisahkan adalah Datuk Rio
Dang Haji Musa yang hidup pada masa sekitar 1901 s/d 1977 sepanjang
hidup dan perjalanan beliau mungkin banyak kisah lain namun yang terangkum
inilah yang bisa diceritakan karena beliau orang yang hobi mengembara dan
bepergian, juga karena narasumber atau penutur yang terbatas.
Kisah
bermula pada saat Datuk berumur sekitar 35 tahun dimana pada hari itu dipagi yang cerah beliau
hendak pergi menyadap pohon enau (aren), sesampainya beliau dikebun enau yang
berlokasi disekitar dusun Pulau Pinang sekarang, iapun segera menyiapkan segala peralatan
penyadapan enau tsb, beliau mulai memanjat pokok pohon enau namun baru separuh
batang yang dipanjat ia mendengar suara menggeruh dan mendengkur berisik tidak jauh dari tempat dia menyadap pohon enau, dia terkejut dan agak penasaran
ia pun terus memanjat sampai kepuncak batang, diatas puncak batang baru dia
mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari seekor babi atau juqud
yang sedang berada ditepi kubangan lumpur dekat batang durian yang kebetulan sedang musim masak awal, tidak jauh dari tempat ia
menyadap pohon enau, dari atas pohon ia melihat juqud yang lumayan agak besar tersebut masih berada diatas kubangan dan masih mengendus kesebuah pokok tunggul pohon mati, dari
atas pohon enau ia melihat ada sesuatu yang digosokkan dari mulutnya dan terlepas atas tunggul tsb, setelah benda tsb sepertinya terlepas, juqud tsb tidak langsung turun untuk berkubang dilumpur namun mendekati beberapa buah durian yang sudah hampir menghitam karena busuk dan ada sebuah yang masih hijau dan bagus namun satu bagian ruangnya sudah sudah bolong baru jatuh dimakan tupai, sehabis makan buah durian tersebut barulah juqud masuk kekubangan, Datuk berpikir mungkin benda yang terlepas
dari mulut juqud pada tunggul tsb adalah rantai juqud seperti yang sering
diceritakan orang bisa menjadi jimat yang ampuh, diapun sambil berpikir
bagaimana cara untuk mendapatkan rantai juqud tersebut, akhirnya dengan sangat
perlahan iapun turun dari atas pokok enau sampai dibawah dengan mengendap ia mencari kayu yang
agak besar untuk dilempar kearah juqud yang sedang ngubang tsb, setelah
didapatkan dengan kaki agak dijinjing dari balik semak ia mulai mendekat sambil
mengintai dari belukar kemudian ia kejutkan sambil melemparkan kayu kearah
juqud yang sedang berkubang dalam hati ia berpikir seandainya juqud itu
mengamuk ia bisa dengan cepat berlari dan memanjat pohon enau yang tidak jauh
dari tempat dia mengintai, oleh karena terkejut juqud tersebut lari menghambur keluar kubangan dan datuk dengan reflex berlari kearah tunggul untuk mengambil
benda diatas pokok tunggul tsb, setelah
benda tersebut digenggam iapun berlari cepat kembali kepokok enau namun rupanya
juqud yang lumayan agak besar kembali dan menghadang datuk, juqud datang menyeruduk,
datuk dengan sigap menghindar sambil menghunus golok, pokok tunggul kayu hampir
tumbang diseruduk sang juqud, dan serudukan juqud hampir menyerempet datuk
beruntung bisa dielak dan terhindar dari serudukannya, karena terlampau kencang
juqud itupun sampai terguling, menjelang juqud bangkit lagi datuk pun lari
dengan cepat dan langsung memanjat pohon enau tempat awal ia panjat tadi,
Alhamdulillah datuk bersyukur sampai keatas dengan selamat, dari atas pohon
enau datuk melihat kebawah masih terlihat juqud tadi hilir mudik masih
mengendus disekitar kubangan dan semak-semak, hari sudah sangat siang dan
hampir menjelang petang namun juqud masih ada dibawah sekitaran pohon enau dan
kubangan, kadang juqud berjalan keliling semak belukar kadang mengendus, hari
sudah hampir petang sudah tiga jam lebih datuk berada diatas pohon enau
perutnya sudah lapar, namun mau makan rantang tempat bekal makanan dia sangkutkan
dipohon kayu dibawah, sambil menahan lapar datuk menempatkan badannya pada posisi aman di pelepah daun enau/aren dan kain sarung yang melilit dibadannya dikait kan pada pelepah yang disandarinya datuk coba memejamkan mata sambil
tiduran menjelang kalau-kalau saja juqud dibawah lari namun mata datuk tidak
terasa mengantuk, haripun semakin petang sinar mataharipun sudah hampir redup
dari atas pohon datuk kembali mengawasi keadaan dibawah namun tidak terlihat
juqud yang tadi pikir datuk mungkin, juqud kelelahan, lapar atau mungkin masih mengintai dibalik semak
belukar, karena khawatir gelap datuk dengan hati-hati dan memberanikan
diri perlahan-lahan turun dari pohon
sesampai dibawah pohon tanpa pikir panjang lagi datuk lari sejauh-jauhnya dari
lokasi kubangan juqud tersebut sampai-sampai datuk lupa dengan rantang tempat
bekal yang ditinggalkan didekat pohon enau.
Setelah
cukup jauh berlari datuk teringat kembali benda yang diambil dari tunggul iapun
meraba saku tempat dia meletakkan benda tersebut alhamdulillah masih ada ujar
datuk, namun dia belum sempat melihat dengan jelas benda apa itu karena hari
sudah mulai gelap.
Setelah
sampai dirumah hari sudah mulai gelap datuk menyimpan barang tesebut dalam
lemari, setelah membersihkan tangan dengan tanah untuk menghilangkan najis
dilanjutkan mandi dan membersihkan badan selepas sholat maghrib dan setelah
makan malam sambil beristirahat minum kopi benda yang sudah dibungkus oleh
datuk dengan kain kembali dibuka dan dibawah sinar lampu togok kaleng yang dikasih
sumbu kain jarit diamatinya benda itu bahannya seperti tulang yang ditepinya berbulu dan berangkai hampir
bulat menyerupai rantai kecil, rupanya ini rupa dan bentuk yang sering disebut
orang-orang rantai babi (rantai juqud) ujar datuk, benda tersebut kembali
dibungkus dengan kain dan disimpan dengan rapi oleh datuk, menurut penuturan
ahli waris rantai juqud itu benar adanya
banyak yang menyaksikannya wujud barang
tersebut yaitu istri dan anak serta sanak saudara dan kawan – kawan dekatnya
rantai tersebut tidak selalu dibawa oleh Datuk Rio Dang Haji Musa hanya bila beliau berpergian atau waktu tertentu
saja, dan rantai juqud sekarang sudah hilang tidak tentu rimbanya atau mungkin
masih ada yang memegang dan menyimpannya hingga saat sekarang. Menurut
penuturan pernah suatu kali dizaman penjajahan Belanda diadakan pertandingan
bola kaki, klub bola kaki datuk Datuk Rio Dang Haji Musa dkk bertanding bola
kaki melawan orang Belanda dan Belanda campuran
(asli kulit putih dan Belanda hitam) dilapangan bola kantor PLN lama di Bukit
Jinam Parak Ubi power plant PLN sekarang, datuk Datuk Rio Dang Haji Musa dihadang
dengan dengan tekel-tekel keras dari orang – orang Belanda yang berbadan dan
berkaki kekar dan besar namun datuk Datuk Rio Dang Haji Musa tidak terjatuh dan
malah orang Belanda itu yang terjengkang dan terjatuh.
Alkisah
pada suatu masa Datuk Rio Dang Haji Musa melakukan perjalanan sambil berdagang
ke daerah Tanjung Semalidu Tebo bersama seorang kerabat sejawat yang bernama
Majid, singkat cerita setelah barang dagangan laku Datuk Rio Dang Haji Musa dan
kawannya Majid hendak kembali pulang kedusun, pada zaman dahulu kondisi alam
dan transporasi perjalanan jauh ditempuh berhari – hari bahkan berbulan-bulan tidaklah
seperti sekarang dahulu kala hutan rimba belantara, binatang buas, orang –
orang sakti dan orang jahat masih banyak sering dijumpai, pada saat itu setelah
sepertiga pulang perjalanan Datuk Rio Dang Haji Musa dan kawannya dihadang kawanan
penyamun (begal atau jantanras zaman sekarang) sekitar 3 orang, penyamun
tersebut meminta Datuk Rio Dang Haji
Musa untuk menyerahkan barang dan uang yang ada pada Datuk Rio Dang Haji Musa
kalau tidak datuk akan pulang tinggal nama, Datuk Rio Dang Haji Musa bersedia
namun dengan syarat kepada penyamun agar melepaskan kawannya agar bila ia ada
apa-apa atau mati ada yang mengabarkan kepada orang-orang dikampungnya, kepada
Majid kawannya Datuk Rio Dang Haji Musa berpesan “pegilah kawan dulu balik jid tunggu aku dijerambah palak dusun dimuko kelak, sambil
kelih – kelih ke belakang bilo dalam 5 batang isapan ghukuk ku dak nyusul kawan berarti ado sesatu tajadi denganku kawan lanjutkan perjalanan balik, kalu ku mati tulung kaba ke ughang dusun bahwosonyo
ku lah mati oleh penyamun” singkat cerita pergilah kawan datuk tadi sambil
takut –takut berani menoleh kebelakang apa yang terjadi dengan Datuk Rio Dang
Haji Musa dengan kawanan begal atau penyamun dibelakang, namun tidak sampai tiga batang isapan rokok Datuk Rio Dang Haji Musa sudah dapat menyusul kawannya Majid, tidak disebutkan bahwa apakah
terjadi perkelahian ataupun lainya yang jelas menurut penuturan sewaktu
kawannya bertanya apa yang terjadi Datuk Rio Dang Haji Musa hanya menjawab
akhirnya penyamun minta api rokok, barang2 dan uang serta datuk selamat tanpa
lecet sedikitpun padahal penyamun didaerah itu pada masanya terkenal ganas dan
sadis bila dia beraksi bahkan sampai menimbulkan korban jiwa setidaknya korban
keganasannya akan diberikan tanda bekas kesadisannya kalau tidak telinga atau jari
yang putus bisa wajah yang codet bekas sabetannya bahkan ada yang sampai
meninggal dunia, (apakah ada pertarungan hebat antara datuk dan sang penyamun kalah
sehinggga sang penyamun menyerah dan cuma minta api rokok,,,??,,apakah karena
efek jimat Rantai Juqud,,???,,tidak dijawab dengan pasti oleh penutur) yang
jelas Datuk Rio Dang Haji Musa dan kawannya Majid selamat sehat wal afiat
sampai ke dusunnya berkat lindungan Allah Swt,,,Wallahualam Bissawab.
Sampai
sekarang barang peninggalan Datuk Rio Dang Haji Musa masih tersimpan
dengan baik oleh ahli warisnya kecuali rantai juqud dan tombak berburu, rumah
kediaman datuk Rio Dang Haji Musa dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar
tahun 1936, dirumah itu dimasa datuk Rio Dang Haji Musa sedang menjabat sering
diadakan pertemuan penyelesain perkara, sengketa, atau masalah2 lain yang
berhubungan dengan kedudukannya sebagai Rio pada masa itu disamping itu didepan
rumah saat hari raya atau acara lain sering diadakan pertunjukan pencak silat,
tari-tarian, baselang putung bila musim tanam tiba diadakan pertemuan dan
musyawarah penentuan hari baik, bulan baik untuk menanam padi bersama secara bergiliran pada bidang kebun / ladang warga dusun, pada masa itu lebih
dikenal dengan nama baselang nugal ditalang / ladang diseberang dusun, lokasi talang
tersebut diantaranya dikenal dengan nama Pulau Panjang, Danau Baru, dsb atau menanam padi disawah Pulau Pinang,
Pulau Tareman dsb, apabila padi siap panen diadakan acara menuai padi bersama atau baselang nuai, masa itu sebagian masyarakat bertani padi makanya
rumah – rumah penduduk masa itu disamping atau dibelakang rumah selalu ada
bilik padi atau gudang penyimpanan padi setelah panen, biasanya musim panen padi pada masa itu sebulan atau lebih sebelum bulan puasa ramadhan, bila panen berjalan
lancar dan hasil panen yang memuaskan didusun diadakan syukuran sambil menyambut bulan puasa sebelum
syukuran diadakan acara baselang putung yaitu acara memotong dan belah kayu api
untuk acara persiapan masak2 acara syukuran, baselang putung diadakan bersama
antar muda mudi pada masa itu acara tersebut menjadi ajang pemuda pemudi untuk
saling bertemu dan mengenal bahkan ada yang ketemu jodohnya diacara itu
kegiatan ini bahkan sampai dihadiri pemuda pemudi antar dusun luar kampung
mereka tanpa diundang ikut menghadiri dan bersama bergotong royong sambil
besimbat patun (berbalas pantun) biasanya
pada zaman dulu acara ini diadakan setiap ada acara barelek, aqiqah anak, khitanan
anak dan syukuran lain. Rumah kediaman Datuk Rio Dang Haji Musa sekarang sudah dihibahkan
kepada ahli waris dan sudah direnovasi ulang barang peninggalan yang masih
original, Meja Makan kayu jati, Lemari jati & gantungan baju, piring &
mangkuk buatan Bohemia Cheko-Tslovakia antara 1926-1945. Datuk Rio Dang Haji
Musa wafat diperkirakan tahun 1977.
Demikianlah
sekelumit kisah Datuk Rio Dang Haji Musa yang bergelar Rio Dang Haji Musa pada
masanya karena gelar Rio pada umumnya masa itu melekat hingga sekarang walaupun
orangnya tidak menjabat lagi, gelar itu menjadi abadi bersama namanya, semoga Datuk
Rio Dang Haji Musa diberikan tempat yang layak disisinya, nama dan kisah
hidup Datuk Rio Dang Haji Musa akan selalu dikenang sampai kecucu dan
cicitnya,,,,
~ Sekian ~
Ket :
Juqud : Babi Hutan
Enau : Pohon Aren
Baselang : Bergotong Royong
Ditulis Oleh :
Dikisahkan oleh nara sumber penutur kisah :
Almh. Mastura Binti H. Musa
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
Alm. Marzuki Bin
H. Musa
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
Rahmah Binti H. Musa
Usman Bin H.
Musa
Hanisah Binti H.
Musa
Khodijah Binti H.
Musa
M. Agustian, SH
Kholil Rahman
Nurlaily
Dibantu penggiat sejarah Sarolangun Tempo Doeloe
- Hermanto BS


















































































