Jumat, 05 Juni 2020

Kisah Rio Dang Haji Musa (1901-1977)




Kisah Rio Dang Haji Musa (1901-1977)

Semangat untuk menggali dan melestarikan budaya dan sejarah serta kisah – kisah tempo dulu perlu digiatkan kembali pada generasi zaman sekarang agar sejarah zaman orang tua nenek puyang kita dulu tidak punah oleh hantaman era digitalisasi gadget dan game offline - game online yang melanda kaum milenial seperti sekarang ini, agar mereka lebih menyukai tradisi, adat, budaya serta kisah –kisah epic puyang – puyang mereka dahulu dari pada menyukai secara berlebihan kisah superhero (superman, batman, avengers, PUBG, Free Fire dll) seperti masa sekarang ini yang notabene hanyalah kisah fiksi khayalan dan fantasi belaka.

Dengan semangat tersebut berikut kami akan sajikan sekelumit kisah tentang seorang Rio diwilayah dusun Sarolangun tepatnya dikampung Masjid Sarolangun yaitu kisah Datuk Rio Dang Haji Musa ± 1901-1977. Pada zaman dahulu lembaga pemerintahan / adat didusun dikepalai oleh seorang Rio setingkat kepala dusun/desa.


Rio yang akan dikisahkan adalah Datuk Rio Dang Haji Musa yang hidup pada masa sekitar 1901 s/d 1977 sepanjang hidup dan perjalanan beliau mungkin banyak kisah lain namun yang terangkum inilah yang bisa diceritakan karena beliau orang yang hobi mengembara dan bepergian, juga karena narasumber atau penutur yang terbatas.

Kisah bermula pada saat Datuk berumur sekitar 35 tahun dimana pada hari itu dipagi yang cerah beliau hendak pergi menyadap pohon enau (aren), sesampainya beliau dikebun enau yang berlokasi disekitar dusun Pulau Pinang sekarang, iapun segera menyiapkan segala peralatan penyadapan enau tsb, beliau mulai memanjat pokok pohon enau namun baru separuh batang yang dipanjat ia mendengar suara menggeruh dan mendengkur berisik tidak jauh dari tempat dia menyadap pohon enau, dia terkejut dan agak penasaran ia pun terus memanjat sampai kepuncak batang, diatas puncak batang baru dia mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari seekor babi atau juqud yang sedang berada ditepi kubangan lumpur dekat batang durian yang kebetulan sedang musim masak awal,  tidak jauh dari tempat ia menyadap pohon enau, dari atas pohon ia melihat juqud yang lumayan  agak besar tersebut masih berada diatas kubangan dan masih mengendus kesebuah pokok tunggul pohon mati, dari atas pohon enau ia melihat ada sesuatu yang digosokkan dari mulutnya dan terlepas atas tunggul tsb, setelah benda tsb sepertinya terlepas, juqud tsb tidak langsung turun untuk berkubang dilumpur namun mendekati beberapa buah durian yang sudah hampir menghitam karena busuk dan ada sebuah yang masih hijau dan bagus namun satu bagian ruangnya sudah sudah bolong baru jatuh dimakan tupai, sehabis makan buah durian tersebut barulah juqud masuk kekubangan, Datuk berpikir mungkin benda yang terlepas dari mulut juqud pada tunggul tsb adalah rantai juqud seperti yang sering diceritakan orang bisa menjadi jimat yang ampuh, diapun sambil berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan rantai juqud tersebut, akhirnya dengan sangat perlahan iapun turun dari atas pokok enau sampai dibawah dengan mengendap ia mencari kayu yang agak besar untuk dilempar kearah juqud yang sedang ngubang tsb, setelah didapatkan dengan kaki agak dijinjing dari balik semak ia mulai mendekat sambil mengintai dari belukar kemudian ia kejutkan sambil melemparkan kayu kearah juqud yang sedang berkubang dalam hati ia berpikir seandainya juqud itu mengamuk ia bisa dengan cepat berlari dan memanjat pohon enau yang tidak jauh dari tempat dia mengintai, oleh karena terkejut juqud tersebut lari menghambur keluar kubangan dan datuk dengan reflex berlari kearah tunggul untuk mengambil benda diatas pokok tunggul tsb, setelah benda tersebut digenggam iapun berlari cepat kembali kepokok enau namun rupanya juqud yang lumayan agak besar kembali dan menghadang datuk, juqud datang menyeruduk, datuk dengan sigap menghindar sambil menghunus golok, pokok tunggul kayu hampir tumbang diseruduk sang juqud, dan serudukan juqud hampir menyerempet datuk beruntung bisa dielak dan terhindar dari serudukannya, karena terlampau kencang juqud itupun sampai terguling, menjelang juqud bangkit lagi datuk pun lari dengan cepat dan langsung memanjat pohon enau tempat awal ia panjat tadi, Alhamdulillah datuk bersyukur sampai keatas dengan selamat, dari atas pohon enau datuk melihat kebawah masih terlihat juqud tadi hilir mudik masih mengendus disekitar kubangan dan semak-semak, hari sudah sangat siang dan hampir menjelang petang namun juqud masih ada dibawah sekitaran pohon enau dan kubangan, kadang juqud berjalan keliling semak belukar kadang mengendus, hari sudah hampir petang sudah tiga jam lebih datuk berada diatas pohon enau perutnya sudah lapar, namun mau makan rantang tempat bekal makanan dia sangkutkan dipohon kayu dibawah, sambil menahan lapar datuk menempatkan badannya pada posisi aman di pelepah daun enau/aren dan kain sarung yang melilit dibadannya dikait kan pada pelepah yang disandarinya datuk coba memejamkan mata sambil tiduran menjelang kalau-kalau saja juqud dibawah lari namun mata datuk tidak terasa mengantuk, haripun semakin petang sinar mataharipun sudah hampir redup dari atas pohon datuk kembali mengawasi keadaan dibawah namun tidak terlihat juqud yang tadi pikir datuk mungkin, juqud kelelahan, lapar atau mungkin masih mengintai dibalik semak belukar, karena khawatir gelap datuk dengan hati-hati dan memberanikan diri  perlahan-lahan turun dari pohon sesampai dibawah pohon tanpa pikir panjang lagi datuk lari sejauh-jauhnya dari lokasi kubangan juqud tersebut sampai-sampai datuk lupa dengan rantang tempat bekal yang ditinggalkan didekat pohon enau.
Setelah cukup jauh berlari datuk teringat kembali benda yang diambil dari tunggul iapun meraba saku tempat dia meletakkan benda tersebut alhamdulillah masih ada ujar datuk, namun dia belum sempat melihat dengan jelas benda apa itu karena hari sudah mulai gelap.
Setelah sampai dirumah hari sudah mulai gelap datuk menyimpan barang tesebut dalam lemari, setelah membersihkan tangan dengan tanah untuk menghilangkan najis dilanjutkan mandi dan membersihkan badan selepas sholat maghrib dan setelah makan malam sambil beristirahat minum kopi benda yang sudah dibungkus oleh datuk dengan kain kembali dibuka dan dibawah sinar lampu togok kaleng yang dikasih sumbu kain jarit diamatinya benda itu bahannya seperti tulang yang ditepinya berbulu dan berangkai hampir bulat menyerupai rantai kecil, rupanya ini rupa dan bentuk yang sering disebut orang-orang rantai babi (rantai juqud) ujar datuk, benda tersebut kembali dibungkus dengan kain dan disimpan dengan rapi oleh datuk, menurut penuturan ahli waris rantai  juqud itu benar adanya  banyak yang menyaksikannya wujud barang tersebut yaitu istri dan anak serta sanak saudara dan kawan – kawan dekatnya rantai  tersebut tidak selalu dibawa oleh Datuk Rio Dang Haji Musa hanya bila beliau berpergian atau waktu tertentu saja, dan rantai juqud sekarang sudah hilang tidak tentu rimbanya atau mungkin masih ada yang memegang dan menyimpannya hingga saat sekarang. Menurut penuturan pernah suatu kali dizaman penjajahan Belanda diadakan pertandingan bola kaki, klub bola kaki datuk Datuk Rio Dang Haji Musa dkk bertanding bola kaki melawan orang Belanda dan Belanda campuran (asli kulit putih dan Belanda hitam) dilapangan bola kantor PLN lama di Bukit Jinam Parak Ubi power plant PLN sekarang, datuk Datuk Rio Dang Haji Musa dihadang dengan dengan tekel-tekel keras dari orang – orang Belanda yang berbadan dan berkaki kekar dan besar namun datuk Datuk Rio Dang Haji Musa tidak terjatuh dan malah orang Belanda itu yang terjengkang dan terjatuh.
Alkisah pada suatu masa Datuk Rio Dang Haji Musa melakukan perjalanan sambil berdagang ke daerah Tanjung Semalidu Tebo bersama seorang kerabat sejawat yang bernama Majid, singkat cerita setelah barang dagangan laku Datuk Rio Dang Haji Musa dan kawannya Majid hendak kembali pulang kedusun, pada zaman dahulu kondisi alam dan transporasi perjalanan jauh ditempuh berhari – hari bahkan berbulan-bulan tidaklah seperti sekarang dahulu kala hutan rimba belantara, binatang buas, orang – orang sakti dan orang jahat masih banyak sering dijumpai, pada saat itu setelah sepertiga pulang perjalanan Datuk Rio Dang Haji Musa dan kawannya dihadang kawanan penyamun (begal atau jantanras zaman sekarang) sekitar 3 orang, penyamun tersebut meminta  Datuk Rio Dang Haji Musa untuk menyerahkan barang dan uang yang ada pada Datuk Rio Dang Haji Musa kalau tidak datuk akan pulang tinggal nama, Datuk Rio Dang Haji Musa bersedia namun dengan syarat kepada penyamun agar melepaskan kawannya agar bila ia ada apa-apa atau mati ada yang mengabarkan kepada orang-orang dikampungnya, kepada Majid kawannya Datuk Rio Dang Haji Musa berpesan “pegilah kawan dulu balik jid tunggu aku dijerambah palak dusun dimuko kelak, sambil kelih – kelih ke belakang bilo dalam 5 batang isapan ghukuk ku dak nyusul kawan berarti ado sesatu tajadi denganku kawan lanjutkan perjalanan balik, kalu ku mati tulung kaba ke ughang dusun bahwosonyo ku lah mati oleh penyamun” singkat cerita pergilah kawan datuk tadi sambil takut –takut berani menoleh kebelakang apa yang terjadi dengan Datuk Rio Dang Haji Musa dengan kawanan begal atau penyamun dibelakang, namun tidak sampai tiga batang isapan rokok Datuk Rio Dang Haji Musa sudah dapat menyusul kawannya Majid, tidak disebutkan bahwa apakah terjadi perkelahian ataupun lainya yang jelas menurut penuturan sewaktu kawannya bertanya apa yang terjadi Datuk Rio Dang Haji Musa hanya menjawab akhirnya penyamun minta api rokok, barang2 dan uang serta datuk selamat tanpa lecet sedikitpun padahal penyamun didaerah itu pada masanya terkenal ganas dan sadis bila dia beraksi bahkan sampai menimbulkan korban jiwa setidaknya korban keganasannya akan diberikan tanda bekas kesadisannya kalau tidak telinga atau jari yang putus bisa wajah yang codet bekas sabetannya bahkan ada yang sampai meninggal dunia, (apakah ada pertarungan hebat antara datuk dan sang penyamun kalah sehinggga sang penyamun menyerah dan cuma minta api rokok,,,??,,apakah karena efek jimat Rantai Juqud,,???,,tidak dijawab dengan pasti oleh penutur) yang jelas Datuk Rio Dang Haji Musa dan kawannya Majid selamat sehat wal afiat sampai ke dusunnya berkat lindungan Allah Swt,,,Wallahualam Bissawab.

Sampai sekarang barang peninggalan Datuk Rio Dang Haji Musa masih tersimpan dengan baik oleh ahli warisnya kecuali rantai juqud dan tombak berburu, rumah kediaman datuk Rio Dang Haji Musa dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1936, dirumah itu dimasa datuk Rio Dang Haji Musa sedang menjabat sering diadakan pertemuan penyelesain perkara, sengketa, atau masalah2 lain yang berhubungan dengan kedudukannya sebagai Rio pada masa itu disamping itu didepan rumah saat hari raya atau acara lain sering diadakan pertunjukan pencak silat, tari-tarian, baselang putung bila musim tanam tiba diadakan pertemuan dan musyawarah penentuan hari baik, bulan baik untuk menanam padi bersama secara bergiliran pada bidang kebun / ladang warga dusun, pada masa itu lebih dikenal dengan nama baselang nugal ditalang / ladang diseberang dusun, lokasi talang tersebut diantaranya dikenal dengan nama Pulau Panjang, Danau Baru, dsb atau menanam padi disawah Pulau Pinang, Pulau Tareman dsb, apabila padi siap panen diadakan acara menuai padi bersama atau baselang nuai, masa itu sebagian masyarakat bertani padi makanya rumah – rumah penduduk masa itu disamping atau dibelakang rumah selalu ada bilik padi atau gudang penyimpanan padi setelah panen, biasanya musim panen padi pada masa itu sebulan atau lebih sebelum bulan puasa ramadhan, bila panen berjalan lancar dan hasil panen yang memuaskan didusun diadakan syukuran sambil menyambut bulan puasa sebelum syukuran diadakan acara baselang putung yaitu acara memotong dan belah kayu api untuk acara persiapan masak2 acara syukuran, baselang putung diadakan bersama antar muda mudi pada masa itu acara tersebut menjadi ajang pemuda pemudi untuk saling bertemu dan mengenal bahkan ada yang ketemu jodohnya diacara itu kegiatan ini bahkan sampai dihadiri pemuda pemudi antar dusun luar kampung mereka tanpa diundang ikut menghadiri dan bersama bergotong royong sambil besimbat patun (berbalas pantun)  biasanya pada zaman dulu acara ini diadakan setiap ada acara barelek, aqiqah anak, khitanan anak dan syukuran lain. Rumah kediaman Datuk Rio Dang Haji Musa sekarang sudah dihibahkan kepada ahli waris dan sudah direnovasi ulang barang peninggalan yang masih original, Meja Makan kayu jati, Lemari jati & gantungan baju, piring & mangkuk buatan Bohemia Cheko-Tslovakia antara 1926-1945. Datuk Rio Dang Haji Musa wafat diperkirakan tahun 1977.






Demikianlah sekelumit kisah Datuk Rio Dang Haji Musa yang bergelar Rio Dang Haji Musa pada masanya karena gelar Rio pada umumnya masa itu melekat hingga sekarang walaupun orangnya tidak menjabat lagi, gelar itu menjadi abadi bersama namanya, semoga Datuk Rio Dang Haji Musa diberikan tempat yang layak disisinya, nama dan kisah hidup Datuk Rio Dang Haji Musa akan selalu dikenang sampai kecucu dan cicitnya,,,,

 ~ Sekian ~


Ket : 
Juqud        : Babi Hutan
Enau          : Pohon Aren
Baselang  : Bergotong Royong







Ditulis Oleh : 
Muhammad Agustian, SH

Dikisahkan oleh nara sumber penutur kisah :
Almh. Hamiah ( istri Datuk Rio Dang Haji Musa )
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
Almh.  Mastura Binti H. Musa
(Penuturan semasa beliau masih hidup)
Alm. Marzuki Bin H. Musa
(Penuturan semasa beliau masih hidup)

Rahmah Binti H. Musa
Usman Bin H. Musa
Hanisah Binti H. Musa
Khodijah Binti H. Musa
M. Agustian, SH
Kholil Rahman
Nurlaily


Dibantu penggiat sejarah Sarolangun Tempo Doeloe
-        Hermanto BS

















Sabtu, 02 Mei 2020

Sadis hancur berkeping-keping speaker karena Nyanyi Suara Cempreng (coba dengar suaranya sangat aneh)





Banyak cara mengisi waktu senggang saat bulan puasa sambil menunggu waktu berbuka apalagi disaat masa-masa SoDis (social distancing) gak boleh kemana-mana salah satunya berkaraoke ria cukup sediakan speaker, microphone dan music colok sana colok sini langsung jreeeng,,,lagunya  bagus  tapi  suara  orang  yang  nyanyi ancurrr,,, walau dengan suara apa adanya alias cempreng tapi semua orang yang mendengarkan pasti mau,,,,(mau muntah) ha,,ha,,dalam hati orang berpikir masih enak dengar suara kodok sawan,,he,,he,,selalu happy,,,ingat jangan dengar lagu ini,,,jangan di laik, di sukreb apalagi di donlot bikin nyemak memori saja,,,tetap ceria jaga kesehatan jangan kemana-mana hindari mendengar lagu ini,,,joom,,,betul,,,betul,,,betul,,,

Selasa, 03 Maret 2020

Seloko Adat Kabupaten Sarolangun Jambi






Seloko Adat adalah salah satu bentuk tradisi yang disampaikan secara lisan pada acara / upacara adat tertentu pada masyarakat Sarolangun Jambi yang diwariskan secara turun temurun, umumnya diselenggarakan dalam sebuah prosesi upacara adat, seperti prosesi upacara adat perkawinan dsb. Seloko berisi ujaran serta ajaran dalam bentuk seperangkat norma yang mengatur kehidupan sehari-hari masyarakat, norma atau aturan yang apabila dilanggar bisa mendapat sanksi. Selain berisi norma-norma yang diikuti sanksi bagi yang melanggar, Seloko juga berisi nasehat, amanat, untuk memberikan tuntunan bagi keselamatan anggota masyarakat dalam pergaulan hidup dan kehidupan sehari-hari.
Norma dan nasehat ini disampaikan dalam bentuk ungkapan-ungkapan berupa peribahasa, pantun, atau pepatah-petitih. Seloko adat Jambi tidak sekadar peribahasa, pepatah-petitih, atau pantun-pantun saja, tetapi lebih dalam lagi seloko adat Jambi merupakan falsafah hidup yang menjadi dasar kebudayaan masyarakat Sarolangun Jambi pada umumnya.

Dalam seloko terdapat juga petunjuk serta ajaran dalam bentuk pantun – pantun dan peribahasa
Sebagaimana diketahui alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir. Pantun melatih seseorang berpikir tentang makna kata sebelum berujar. Pantun juga melatih orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Secara sosial, pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda masa kini, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata.

Dalam tulisan kali ini saya akan menampilkan dokumentasi buku dalam bentuk pdf tentang persembahan seloko adat Kabupaten Sarolangun yang pernah dipersembahkan pada salah satu acara pernikahan putra dan Putri sesepuh adat dan mantan pejabat di Kabupaten Sarolangun sebagai bentuk arsip pdf dimana tujuan dari tulisan ini adalah sebagai penyimpanan sehingga nilai warisan budaya dari seloko adat tersebut masih tetap tersimpan agar tidak hilang ditelan zaman mudah- mudahan ada manfaatnya. Terima Kasih,,,
































































Seloko Adat Kabupaten Sarolangun Jambi
































Pegi ketoko beli ubat
Ubat tabeli sen kurang
Semoga seloko ini bermanfaat
Sebagai warisan budaya bagi generasi kini dan akan datang
Terima Kasih


Sekian

Didokumentasi / diarsipkan kembali oleh : 



M. Agustian, SH